Trump Nyaris Serang Iran, Gencatan Senjata 2 Pekan Tercapai Jelang Deadline Hormuz
AP News (filantropis.id), konflik meningkat tajam ketika Iran menutup Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Presiden Trump merespons dengan serangkaian ultimatum, bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting Iran seperti pembangkit listrik, ladang minyak, dan jembatan jika jalur tersebut tidak dibuka.
Retorika Trump juga menuai perhatian global karena dinilai sangat keras. Dalam salah satu pernyataannya, ia bahkan memperingatkan potensi kehancuran besar jika Iran tidak mematuhi tuntutan tersebut.
Meski sempat berulang kali memperpanjang tenggat waktu, situasi mencapai titik kritis pada 6 April 2026. Hanya sekitar dua jam sebelum rencana serangan dilaksanakan, Trump memutuskan untuk menunda operasi militer setelah adanya sinyal kesepakatan dari pihak Iran.
Iran kemudian menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dan membuka akses Selat Hormuz secara terbatas. Selama periode ini, kedua negara sepakat untuk melanjutkan negosiasi guna mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukan berarti konflik telah berakhir. Ketegangan masih berlangsung, terutama karena konflik yang lebih luas juga melibatkan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Kesepakatan sementara ini memberikan harapan bagi stabilitas global, terutama dalam menekan lonjakan harga energi. Namun, situasi tetap rapuh dan sangat bergantung pada hasil negosiasi lanjutan antara kedua negara.
